Tirta Empul

Tirta Empul

Bali merupakan salah satu gudangnya tempat wisata yang selalu menarik perhatian, baik untuk turis domestic maupun non-domestic. Mulai dari pantai sampai ke gunung, selalu ada tempat yang sangat menarik untuk disinggahi bila sudah menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Salah satu tempat yang patut untuk disinggahi yaitu “Tirta Empul” yang berada di kawasan Gianyar. Lebih tempatnya, lokasinya bersebelahan dengan Istana Presiden yang ada di Desa Manukaya, Tampak Siring, Gianyar, Bali. Tirta Empul merupakan sebuah pura dengan pemandian yang dianggap suci dan dikeramatkan. Di masa sekarang ini, Tirta Empul sudah menjadi salah satu daya tarik tersendiri di daerah Gianyar.

Konon menurut legenda terciptanya Tirta Empul berkaitan dengan sejarah Tampaksiring, dimana Batara Indra diutus dari langit untuk menghancurkan raja Mayadenawa yang sakti namun bersifat angkara murka. Mayadenawa kemudian berlari masuk ke dalam hutan. Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dari sanalah kemudian muncul nama sebuah desa Tampak Siring (Telapak miring). Mayadenawa akhirnya ia berhasil ditangkap oleh Batara Indra. Namun, sebelum itu, dengan sisa-sisa kesaktiannya ia berhasil menciptakan mata air beracun yang menyebabkan banyak kematian setelah meminum air dari mata air ciptannya itu. Batara Indra pun kemudian menancapkan tombaknya ke tanah dan tersembur air sebagai penawar air beracun tersebut. Air Penawar racun dapat menghidupkan kembali mereka yang telah meninggal akibat meminum racun. Air penawar racun tersebut diberi nama Tirta Empul (yang bermakna “airsuci”).

Tirta Empul dikenal dengan mata airnya berupa pancuran yang dipercaya sebagai air suci dan memiliki berbagai khasiat. Biasanya air dari pancuran tersebut digunakan untuk melukat atau peleburan dan penyucian diri, terutama bagi masyarakat Bali. Tak hanya masyarakat Bali, para wisatawan pun juga banyak yang ikut melakukan hal yang sama. Pancuran tersebut terdiri dari dua bagian utama yang dipisahkan dengan sekat diding yang rendah. Bagian pertama memiliki 13 pancuran dan setiap pancuran memiliki nama serta khasiat/kegunaan yang berbeda. Di atas setiap pancuran tertulis namanya dengan huruf Bali. Namun dari bagian pertama ini, ada 2 pancuran yang tidak boleh digunakan untuk mandi, dari pihak yang berjaga akan memberitahu pancuran mana saja yang tidak boleh digunakan. Sedangkan dibagian kedua ada 8 pancuran, ada 2 pancuran dan 6 pancuran yang dipisahkan dengan sebuah jalan pemisah selebar ± 1 meter.

Seperti yang sudah kita ketahui, Tirta Empul merupakan tempat yang dianggap sakral dan suci, jadi sebelum memasuki kawasan pemandian harus mengenakan pakaian yang sopan. Sedangkan saat akan mandi, barang-barang pun harus dititipkan terlebih dahulu. Biasanya disana disediakan tempat penitipan barang dan penyewaan kamben (bagi yang berpakaian mini) dan selendang. Dengan Rp. 8.000, sudah bisa untuk menyewa kamben, selendang dan lokernya. Selain berpakaian sopan, dalam mandi pun juga ada aturannya, harus mulai dari pancuran yang paling kiri ke pancuran kanan secara berurutan. Dan satu hal lagi yang sangat penting untuk diperhatikan untuk wanita, kalau sedang datang bulan/haid tidak diperkenankan untuk memasuki wilayah pura maupun melakukan melukat. Hal ini juga berlaku untuk setiap pura yang berada di Pulau Bali. Setelah selesai dari pemandian dan melihat-lihat pura, di jalan keluar juga terdapat beberapa pedagang yang menjual souvenir khas Bali.

Photo Gallery