Sangeh

Sangeh

Tempat wisata yang satu ini, berada di Desa Adat Sangeh, Kecamatan Abian semal, Badung, Bali. Sangeh merupakan salah satu wisata alam yang cukup menarik, berupa hutan yang cukup luas dan dihuni oleh ratusan ekor monyet. Dulu sangeh dikenal dengan monyet-monyetnya yang cukup liar dan jahil, tak jarang mereka mengambil barang – barang atau aksesoris milik para wisatawan, seperti kamera, kacamata, topi, dompet, hp atau barang lainnya yang tidak disimpan/ dibawa dengan hati-hati. Dan mereka tidak akan mengembalikan barang-barang tersebut bila tidak ditukar dengan makanan. Namun kini, monyet-monyet itu sudah cukup jinak, baik yang ada di dalam hutan maupun yang suka berkeliaran di area parkir atau dekat pintu masuk.

Konon menurut cerita yang diyakini masyarakat setempat nama Sangeh berkaitan dengan hutan Pala, yang berasal dari dua kata “Sang” yang berarti orang dan “Ngeh” yang berarti melihat, atau diartikan sebagai orang yang melihat. Diceritakan pohon atau kayu-kayu Pala dalam perjalanan dari Gunung Agung di Bali Timur menuju ke Bali Barat, namun karena ada orang yang melihatnya maka pohon tersebut berhenti di tempat yang sekarang disebut Sangeh. Anda boleh percaya ataupun tidak dengan mitos ini, namun jika Anda memperhatikan daerah sekeliling Sangeh mungkin Anda akan percaya. Karena hanya pada kawasan Sangeh saja terdapat pohon-pohon yang memiliki bentuk tinggi menjulang, sedangkan keluar dari kawasan Sangeh tidak nampak tumbuh satu-pun pohon yang memiliki bentuk tinggi menjulang seperti itu.

Menurut pengelola wisata ini, monyet – monyet yang ada di dalam hutan Sangeh memiliki beberapa kelompok. Mereka menyebutnya dengan kerajaan-kerajaan monyet, karena setiap kelompok memiliki seekor raja monyet yang disegani oleh monyet-monyet lainnya. Takubahnya seperti dikehidupan manusia pada jaman kerajaan dulu, raja dari setiap kelompok juga memiliki wilayah kekuasaan tertentu. Bila ada salah satu yang memasuki wilayah lain, bisa jadi para monyet-monyet tersebut akan saling melakukan penyerangan antar kelompok tersebut. Selain itu, mereka juga memiliki raja tertinggi dari seluruh wilayah hutan Sangeh, biasanya raja tersebut berdiam diri/ tinggal di kawasan Bukit Sari Temple yang menjadi pura terbesar di hutan Sangeh.

Ada beberapa titik/ lokasi tertentu di dalam hutan yang bisa dikunjungi oleh para wisatawan, seperti Kumbakarna Statue yang berada tak jauh dari pintu masuk hutan. Bukit Sari Temple, sebagai tempat/ pura yang disakralkan dan dihuni oleh raja tertinggi dari beberapa kerajaan yang ada di hutan Sangeh. Disampingnya juga terdapat sebuah kolam renang untuk monyet. Dari Bukit Sari Temple, bisa dilanjutkan lagi menuju Melanting Temple, Tirta Temple, Male & Female Treedan yang terakhir kawasan Anyar Temple. Dan kembali lagi ke pintu utama melewati Kumbakarna Statue, di antara Anyar Temple dan Kumbakarna Statue, juga terdapat sebuah kolam untuk monyet.

Kalau ingin menikmati seluruh bagian hutan Sangeh beserta sejarahnya, lebih baik datang datang di pagi hari dan ditemani oleh pemandu yang disediakan oleh pihak pengelola. Biasanya lokasi ini mulai dibuka untuk para wisatawan mulai jam 8 pagi sampai sekitar jam 6 sore setiap hari. Sedangkan untuk tiket masuknya seharga Rp 5.000 untuk setiap orang. Kalau pun ingin membeli oleh-oleh atau makanan untuk monyet-monyet juga ada disekitar area parkir. Namun untuk pedagang yang menjual oleh-oleh tidak terlalu banyak, mungkin hanya beberapa kios saja.

Harga Ticket

menu utama

Photo Gallery