Pura Besakih

Besakih

Pura Besakih merupakan sebuah komplek pura Hindu terbesar yang ada di Pulau Bali, terdiri dari 1 Pura Pusat (Pura Penataran Agung) dan 18 pura pendampingnya (1 Pura Basukian dan 17 pura lainnya). Pura Penataran Agung merupakan pura terbesar, terbanyak bangunan pelinggihnya, terbanyak jenis upacaranya dan merupakan pusat dari semua pura yang ada di komplek Pura Besakih. Di dalam Pura Penataran Agung terdapat 3 arca atau candi utama sebagai symbol stana dari sifat Tuhan Tri Murti. Yaitu Dewa Brahmana, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa yang merupakan perlambangan dari Dewa Pencipta, Dewa Pemelihara dan Dewa Pelebur/ Reinkarnasi. Komplek Pura Besakih terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, kalau dari kota Denpasar bisa ditempuh dalam waktu ±2,5 jam perjalanan. Berdasarkan catatan prasasti kuno tahun 1007 Masehi, dapat diketahui bahwa sejak abad ke-15, Pura Besakih dianggap sebagai pusat candi Hindu di Bali. Meski Pura Besakih sebagai pusat dari seluruh pura agama Hindu di Pulau Bali, tapi di dalam area kompleks juga terdapat sebuah komplek pura yang digunakan sebagai tempat ibadah agama Budha.

Besakih berasal dari kata “Basuki“, diambil dari kata “Wasuki” yang berarti Keselamatan dalam bahasa Sansekerta. Sedangkan, dalam mitologi Samudramanthana, nama “Besuki” sebenarnya mengacu pada  “Naga Besukian“, yang mendiami Gunung Agung (gunung berapi utama di Bali). Menurut sejarahnya, Pura Besakih dibangun oleh Rsi Markandya dan pengikutnya sekitar abad ke-11. Pada waktu itu, Rsi Markandya ingin pergi ke Gunung Agung untuk membangun peristirahatan. Namun, proses pembangunannya bermasalah karena meninggalnya para pengikutnya akibat suatu penyakit. Untuk menyelamatkan para pengikutnya maka Rsi Markandya membuat sebuah tempat pemujaan terhadap Tuhan sebagai penyelamat. Tempat pemujaan tersebut disebut “Sanggar Basuki”.

Ada beberapa upacara besar yang dilaksanakan umat Hindu di Pura Besakih secara berkala. Ada upacara Tawur Agung Eka Dasa Rudra yang dilaksanakan setiap 100 tahun sekali tatkala angka satuan dan puluhan tahun Saka mencapai nol (0) atau tenggek windu lan rah windu. Pelaksanaan Upacara Tawur Agung Eka Dasa Rudra membutuhkan waktu ±48 hari. Biasanya upacara Tawur Agung Eka Dasa Rudra jatuh pada bulan April, kecuali pada tahun dimana Gunung Agung meletus. Pelaksanaannya di undur sesuai dengan tuntunan susastra, sehingga pelaksanaannya jatuh pada bulan Maret. Upacara Tawur Agung Panca Bali Krama yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali tatkala angka satuan tahu Saka mencapai nol (0). Berdasarkan sumber-sumber sastra indik Panca Bali Krama, setiap 10 tahun sekali yaitu pada Tilem Caltra (Tilem Kasanga) tahun Saka berakhir dengan nol (0), maka patut dilaksanakan Panca Agung Bali Krama. Selain itu, ada juga beberapa upacara lainnya yang sering dilakukan di area komplek Pura Besakih.

Pura Besakih juga merupakan pura/candi yang luar biasa, cobalah melihat pura dari jarak jauh, maka kita dapat menyaksikan sebuah komplek pura seperti piramida yang mengesankan. Deretan pura yang membentang dengan Gunung Agung sebagai latar belakangnya yang dramatis. Pemandangan  yang lebih menakjubkan dapat terlihat pada pagi hari, dimana cahaya mentari pagi menyinari komplek pura dengan menembus kabut yang masih lembut dan saat matahari terbenam. Pura ini juga dihiasi dengan ornamen bergaya Bali, mulai dari tangga pura, berhala batu suci, dan juga ukiran batu.

Sebelum menjelajahi komplek pura, para pengunjung harus ditemani oleh seorang guide yang ada di samping pintu masuk (tempat pemeriksaan tiket) area pura. Biasanya mereka meminta biaya administrasi suka rela dari para pengunjung (sebaiknya sediakan uang pas). Selain itu, para pengunjung juga diharuskan untuk memakai sarung dan selempang, terutama pada saat di dalam pura sedang diadakan upacara. Tujuannya untuk menghormati tradisi di Pulau Bali, karena Pura Besakih merupakan tempat ibadah yang suci.

Untuk mencapai komplek pura, setelah area parkir kita harus berjalan sekitar 200 meter dan di kedua sisi jalan, ada beberapa kios souvenir yang berjejer rapi. Jika tidak mau berjalan kaki, kita juga bisa memilih untuk menggunakan jasa ojek yang ada di sekitar pintu masuk. Ketika mencapai area pura, sebaiknya lebih berhati terhadap orang yang akan memberi bunga. Meski mereka bilang memberi cuma-cuma, tapi akan ada anak kecil yang akan meminta uang bunga dan selalu mengikuti kemanapun kita pergi sebelum dikasih uang. Dan akan lebih jika kita tidak menerima apa pun yang diberikan selama kita berada di area pura.

Setelah masuk ke dalam area pura, kita akan melihat pura pertama di sebelah kiri. Pura ini adalah bait suci yang didedikasikan untuk nenek moyang kerajaan yang dikenal sebagai Pura Dalem Puri. Karena di area komplek Pura Besakih masih berlaku tentang lapisan masyarakat berdasarkan kasta. Dari sini, berjalan menaiki tangga yang akan membawa kita ke Pura Penataran Agung. Di samping candi utama ada dua candi penting lainnya, yaitu Pura Kiduling Kreteg di sebelah kanan dan Pura Batu Madeg di kiri. Di dalam komplek pura bagian belakang, juga terdapat beberapa penjual souvenir yang cukup menarik. Untuk dapat mengelilingi seluruh komplek pura, membutuhkan waktu lebih dari 1 jam, karena komplek pura memang sangat luas. Jika Anda ingin menjelajahi bagian pura yang lebih terpencil, pergilah menuju Pura Pengubengan, yang terletak sekitar ±2 kilometer di ujung utara komplek.

Harga Ticket

Rp 10.000/ orang

Photo Gallery