Keraton Kasunanan Solo

Kasunanan Surakarta Hardiningrat  adalah sebuah kerajaan di Jawa Tengah yang berdiri pada tahun 1755, sebagai hasil dari perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755. Perjanjain antara VOC dengan pihak-pihak yang bersengketa di Kesultanan Mataram, yaitu Sultan Pakubuwono III dan Pangeran Mangkubumi. Pada perjanjian tersebut, disepakati bahwa Kesultanan Mataram dibagi dalam dua wilayah kekuasaan, yaitu Surakarta dan Yogyakarta.

Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II pada tahun 1744, karena Istana/ Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan pada tahun 1743. Pemberontakan ini dimulai sejak tahun 1740, ketika VOC memberlakukan kebijakan untuk mengurangi jumlah orang Cina di Batavia. Pelarian laskar-laskar Cina tersebut ternyata mendapat dukungan dari para Bupati di wilayah pesisir. Secara diam-diam, Paku Buwana II juga mendukung gerakan perlawanan laskar Cina terhadap VOC melalui patih kerajaan yang bernama Adipati Natakusuma. Tujuannya untuk memukul mundur kekuasaan VOC di wilayah kekuasaan Mataram Kartasura. Namun melihat Kota Semarang yang menjadi pusat VOC di Timur Batavia tidak kunjung jatuh ke tangan orang-orang Cina, Paku Buwana II menarik dukungannya dan kembali memihak VOC untuk memerangi perlawanan lascar Cina. Akan tetapi kekuatan pasukan Cina tidak berangsur surut, melainkan bertambah kuat dengan dukungan Bupati Pati, Bupati Grobongan dan beberapa kerabat raja. Bahkan Laskar Cina mampu mengangkat Mas Garendi (cucu Amangkurat III) sebagai penguasa yang baru atas kerajaan Mataram Kartasura dengan gelar Sunan Kuning (yang bermakna raja yang didukung oleh Cina).

Pada tahun 1742 pihak kerajaan makin terdesak, sehingga raja, kerabat dan pengikutnya yang masih setia harus mengungsi ke Ponorogo, Jawa Timur. Para pemberontak berhasil menduduki dan merusak bangunan Keraton Kartasura. Pemberontakan baru dapat dipadamkan setelah Paku Buwana II dibantu pasukan VOC menyerbu Laskar Cina. Meskipun kembali bertahta, namun Paku Buwana II merasa pusat kerajaan di Keraton Kartasura tidak layak lagi untuk ditempati. Karena menurut kepercayaan Jawa, Keraton yang sudah rusak telah kehilangan “Wahyu”. Oleh sebab itu, maka Susuhunan kemudian menugaskan Adipati Pringgalaya, Adipati Sindureja, Mayor Higendrop dan bebrapa ahli nujum seperti Tumenggung Hanggawangsa, Mangkuyuda dan Puspanegara untuk mencari lokasi baru.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka Desa Solo ditetapkan sebagai lokasi baru untuk menggantikan Keraton Kartasura. Setelah Istana Kerajaan Mataram selesai dibangun secara resmi, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hardiningrat. Istana ini juga menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram oleh Paku Buwana II kepada VOC di tahun 1749. Setelah perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta. Kasunanan Surakarta umumnya tidak dianggap sebagai pengganti Kasultanan Mataram, melainkan sebuah kerajaan tersendiri, walaupun rajanya masih keturunan Raja Mataram. Setiap raja Kasunanan Surakarta bergelar Sunan (demikian pula raja Kasultanan Yogyakarta yang bergelar Sultan) selalu menandatangani kontrk politik dengan VOC atau Pemerintahan Hindia-Belanda.

Keberadaan keraton ini tidak lepas dari budaya, nilai sejarah dan nilai magisnya. Pembangunan keratin dilakukan dari tahun 1743 sampai tahun 1745. Konstruksi bangunan keratin menggunakan bahan kayu jati yang diperoleh dari Alas Kethu di dekat Wonogiri. Luas keratin ini ±54 hektar, mulai dari Alun-Alun Utara hingga Alun-Alun Selatan dan dikitari oleh Pasar Klewer dan Masjid Agung Surakarta.

Bangunan Keraton terdiri dari Pagelaran, Siti Hinggil, Kori Brojowolo, Kori Kamandungan, Kori Sri Manganti dan Panggung Sangga Buwana. Sedangkan bagian keraton yang tidak boleh dikunjungi para wisatawan adalah Sasana Sewaka, Sasana Pustaka dan Maligi. Kompleks keraton ini juga dikelilingi dengan baluwarti, sebuah dinding pertahanan dengan tinggi ±3-5 meter dengan tebal ±1 meter tanpa anjungan. Dinding ini melingkungi sebuah daerah dengan bentuk persegi panjang, daerah itu berukuran lebar ±500 meter dan panjangnya ±700 meter. Kompleks keraton yang berada di dalam dinding adalah Kemandungan Lor/ Utara sampai Kemandungan Kidul/ Selatan. Keuda kompleks Siti Inggil dan Alun-Alun tidak dilingkupi tembok pertahanan ini.

Keraton ini juga memiliki museum yang menyimpan barang-barang peninggalan keraton dan fragmen candi-candi di Jawa Tengah. Pada ruang pertama, pengunjung dapat melihat benda-benda yang pernah digunakan sebagai alat memasak abdi dalem (pembantu raja), seperti dandang, mangkuk serta beberapa peralatan dari gerabah. Ada juga ruangan yang digunakan untuk memamerkan senjata-senjata kuno, seperti tombak, pedang, meriam dan juga pistol jaman dulu yang digunakan oleh keluarga Keraton. Berbagai peralatan kesenian yang biasa ditampilkan di Keraton Surakarta, seperti gamelan dan topeng juga dipamerkan di dalam museum ini. Koleksi menarik lainnya yang bisa dinikmati adalah kereta kencana, dayung sampan sepanjang 5 meter, serta topi kebesaran Paku Buwana VI, Paku Buwana VII serta Paku Buwana X. Apabila ingin mengetahui sejarah pembagian Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta berdasarkan Perjanjian Giyanti 1755, para wisatawan dapat melihat silsilah para penguasa dan penerus Mataram Islam yang berpuncak pada Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam.

Di samping museum terdapat Sasana Sewaka, untuk halaman Sasana Sewaka diselimuti oleh hamparan pasir yang diambil langsung dari Gunung Merapi dan Pantai Parangkusumo. Di keraton ini juga terdapat menara yang disebut dengan nama Panggung Sanggabuwana, konon digunakan oleh Susuhunan untuk bersemedi dan bertemu dengan Nyai Roro kidul, penguasa pantai selatan. Selain itu, Panggung Sunggabuwana juga berfungsi sebagai menara pertahanan, yaitu untuk mengontrol keadaan di sekeliling keraton.

Keraton Kasunanan Surakarta memiliki luas ±500 meter x 700 meter yang dikelilingi oleh dinding pertahanan (benteng) yang disebut Baluarti. Dinding tersebut mengelilingi keraton setinggi ±3-5 meter dengan tebal ±1 meter, dengan bentuk persegi panjang. Para wisatawan yang ingin menikmati peninggalan sejarah Kerajaan Mataram Surakarta ni, diwajibkan untuk mematuhi berbagai peraturan. Seperti tidak memakai topi, kaca mata hitam, celana pendek, sanal serta jaket. Bagi wisatawan yang memakai celana pendek, dapat meminjam kain bawahan untuk digunakan selama mengililingi kawasan keraton.

Harga Ticket

Domestik : Rp. 4000/orang; Mancanegara : Rp. 8000/orang

Photo Gallery