Deretan Rumah Rapi dan Bersih di Desa Penglipuran

desa penglipuran

Udara segar dan sejuk akan menyambut kedatangan siapa saja ke salah satu desa unik di Bali ini, karena disana kalian akan menemukan  deretan rumah yang tertata rapi dan bersih lengkap dengan penjor yang menghias di masing – masing pintu depan rumahnya. Begitu juga tanaman yang ditata rapi dan seragam dengan rumah di sebelahnya. Selain karena berada di dataran tinggi, desa Penglipuran yang terletak di kabupaten Bangli ini wajib menjadi salah satu tujuan wisata kalian.

Untuk mencari lokasi desa Penglipuran, jika dari arah Denpasar kalian hanya perlu menyusuri jalan by pass Ida Bagus mantra lurus hingga masuk ke perempatan jalan pantai Siyut kemudian belok kiri. Dari jalan pantai Siyut ini menuju ke jalan raya Tulikup kemudian lanjut menuju jalan Taman Bali menuju kota Bangli. Kemudian menyusuri jalan Nusantara sampai bertemu simpang tiga kemudian belok kiri mengikuti penunjuk arah menuju objek wisata desa Penglipuran. Sekitar 300 meter lagi kalian akan diantar ke depan gerbang desa Penglipuran.

Berdiri di atas lahan seluas 112 hektar, bangunan desa ini mencirikan arsitektur tradisional Bali, dengan atap yang terbuat dari sirap bambu, juga dengan dinding rumah yang masih menggunakan anyaman bambu (benar-benar bali mula atau bali tempoe doloe). Lebar pintu (angkul-angkul-sebutan di Bali) ini hanya muat dimasuki oleh satu orang yang diawali dan diakhiri dengan anak tangga yang mengartikan bahwa tamu yang datang menghormati tuan rumah.

Selain bentuk rumah yang sama, pembagian tiap ruang di dalam pekarangan masing-masing rumah juga nggak jauh beda seperti penempatan kamar tidur dan dapur. Cat tembok yang digunakan masih berbahan dasar dari tanah liat. Pedestrian (jalan setapak) masih menggunakan batu alam dan rumput yang selalu dipotong rapi. Dan yang paling menarik kalian bisa menemui penduduk setempat dan melihat langsung aktivitas mereka di dalam pekarangan rumah. Walaupun beberapa rumah sudah mengalami renovasi dengan mengganti dinding bambu menggunakan batu bata gosok Bali, tetap aja konsep menyatu dengan alam nggak dibiarkan luput gitu aja.

Kalau kalian memutuskan pergi ke tempat wisata yang sudah ada sejak 700 tahun yang lalu semasa kerajaan Bangli ini. Yang perlu di-notice adalah ikut menjaga kebersihan desa, karena kalian nggak diperbolehkan membuang sampah sembarangan. Membawa kendaraan seperti motor atau mobil hanya bisa kalian lakukan sampai belakang desa yang sudah disediakan tempat parkir, kalian cukup menyediakan kocek untuk parkir sebesar Rp. 3.000 untuk motor dan Rp. 5.000 untuk mobil.

(Novita, September 2017)
Sumber foto: @kadir_wareg_ban_makenyem

Harga Ticket

Harga Tiket Masuk (Rp. 15.000)

Photo Gallery