Air Terjun Bertingkat Gitgit

Air Terjun git2

Tak hanya rumah atau gedung-gedung yang bertingkat, air terjun yang ada di Desa Gitgit, Buleleng, Bali juga ada yang bertingkat. Air Terjun Bertingkat merupakan salah satu dari empat air terjun yang terdapat di Desa Gitgit, Sukasada, Buleleng, Bali.  Bagi yang belum mengetahuinya, kalau dari Danau Bedugul terus saja naik ke atas menuju Singaraja di jalur utama. Jalur untuk mencapai Air Terjun Bertingkat cukup sulit, kita harus melewati jalan yang cukup menanjak dan berkelok-kelok, bahkan ada juga jalan yang membuat kendaraan kita harus berputar hingga 180°. Kalau menempuh jalur ini, para pengunjung diharuskan agar ekstra hati-hati, baik pada malam hari maupun siang hari. Meski medannya yang cukup sulit, tapi disepanjang jalan pemandangannya sangat menyenangkan.

Lokasinya berada masuk ke dalam sebuah perkampungan kecil, dari jalur utama di kiri jalan ada papan petunjuknya, sehingga tak perlu takut tersesat. Setelah keluar dari jalur utama, jalannya cukup sempit, hanya bisa dilalui oleh sebuah mobil. Untung saja ketika kami dari tim wisatakuliner.com menuju lokasi tidak bertemu dengan mobil lain yang datang dari arah yang berlawanan, sehingga perjalan cukup lancar. Setelah sampai di area parkir, kita tidak langsung bertemu dengan air terjunnya. Namun kita harus menempuh lagi perjalanan beberapa ratus meter untuk sampai ke air terjun, karena penasaran langsung saja perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki.

Setelah mengisi buku tamu dan memberi dana sekedarnya, kami pun langsung melanjutkan perjalanan dengan segera. Sepanjang jalan setapak yang dilewati dikelilingi oleh pohon cengkeh dan beberapa jenis pohon lain yang ada dikanan dan kiri jalan. Tidak terlalu banyak rumah yang bisa dijumpai, sedangkan penjual souvenir pun hanya 2-3 kios saja. Karena baru pertama kali, ketika menemui jalan dua arah yang menyimpang timbulah keraguan jalan mana yang mengarah ke Air Terjun Bertingkat. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya bertemu dengan beberapa turis asing beserta pemandunya yang datang dari arah kiri. Dan tanpa ragu lagi, perjalanan pun kembali dilanjutkan.

Menurut papan petunjuk yang baru saja terlewati, jaraknya masih sekitar 300 m, namun rasanya jalan yang cukup jauh sudah terlewati. Namun tanda-tanda akan adanya air terjun juga belum terasa. Dengan sedikit berputus asa perjalanan tetap dilanjutkan, meski kaki sudah agak pegal karena melewati jalan setapak yang sedikit menanjak. Setelah beberapa saat akhirnya suara gemuruh air pun terdengar, semangat pun kembali menyala-nyala. Dengan langkah yang lebih cepat, akhirnya bertemu juga dengan sebuah jembatan dan tanpa terasa senyum pun sudah menghiasi bibir.

Di seberang jembatan sudah terlihat pengunjung yang akan kembali menuju area parkir. Tepat di atas jembatan pertama, air terjun yang bertingkat pun terlihat dengan jelas. Dan dengan segera saya pun bergegas menuju ke air tejun, semua rasa lelah selama perjalanan serasa hilang begitu saja ketika kaki menyentuh dinginnya air terjun. Belum puas di dasar air terjun, kaki pun dengan segera melangkah lagi melewati beberapa anak tangga yang menghubungkan ke air terjun yang ada di atasnya. Dan sampailah pada air terjun yang ada di tengah-tengah, airnya jernih dan dingin.

Dinding-dinding tebing yang mengapitnya membuat suasana air terjun ini sangat tenang, tapi ada sedikit yang mengganggu, seorang anak kecil penjual souvenir yang selalu mengikuti. Tapi itu bukan menjadi penghalang yang berarti untuk tidak kembali mengunjungi air terjun ini. Sebenarnya ingin sekali untuk naik lagi ke air terjun yang paling atas, namun sayangnya disini tidak ada akses jalan yang bisa dilewati untuk sampai disana. Namun, kalau melewati pintu masuk yang lainnya, kita bisa menyaksikan dari atas, namun tidak bisa menjangkau air terjun yang ada ditingkatan yang bawah. Setelah cukup puas di bawah air terjun, perjalanan kembali dari air terjun menuju area parkir terasa begitu ringan dan jaraknya juga lebih dekat dari pada waktu berangkat.

Photo Gallery