Serabi Notosuman (Ny. Lidia)

Serabi Notosuman Ny Lidia

Berbicara tentang kue serabi, pasti akan teringat dengan kue Serabi Notosuman yang ada di Solo. Meski merupakan salah satu kue jajanan pasar, namun keberadaan kue ini sudah menjadi salah satu oleh-oleh yang khas dari kota Solo. Dengan menempati salah satu bangunan yang ada di Jl. Moh. Yamin, Ny. Lidia mulai mengelola usaha kue serabi sejak tahun 1990-an. Ketika Saya bersama tim wisatakuliner.com tiba dilokasi, tempat parkirnya sudah cukup penuh, sehingga mobil kami hanya diparkir di tepi jalan. Dari depan sudah terlihat kesibukan para karyawannya yang menggunakan seragam hijau sedang mencetak kue serabi. Berdasarkan informasi yang Saya terima ketika singgah ke toko Serabi Notosuman Ny. Lidia, usaha ini dirintis sejak tahun 1923 oleh Ho Gieng Hok di daerah Notosuman (sekarang Jl. Moh. Yamin). Sehingga kue serabinya dikenal dengan nama kue Serabi Notosuman. Setelah Beliau meninggal dunia, usahanya kemudian dilanjutkan oleh anak cucunya hingga sekarang. Ny. Lidia merupakan salah satu penerusnya, warna hijau yang dominan menjadi salah satu ciri khasnya secara fisik.

Pada umumnya proses pembuatan kue serabi masih dengan cara tradisional, yaitu menggunakan anglo dan arang sebagai bahan bakarnya. Namun untuk Serabi Notosuman Ny. Lidia, proses pembuatannya sudah semi modern. Wajan-wajan kecil disusun di atas meja-meja alumunium dengan kompor gas sebagai bahan bakarnya. Sedangkan dalam pembuatannya tidak menggunakan bahan pengawet, sehingga kue ini hanya bisa dinikmati selama 24 jam setelah proses pembuatan. Ada dua pilihan rasa yang tersedia, original dan cokelat. Biasanya Ny. Lidia membutuhkan tepung beras antara 75-100 kg setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pembelinya yang selalu datang dan pergi tanpa henti.

Kue serabi paling enak dinikmati dalam keadaan hangat, tapi kalau pun sudah dingin rasanya juga tidak jauh berbeda, asalkan belum melewati batas waktu yang sudah ditentukan sebelumnya. Kue serabi yang original rasanya gurih dan manis, teksturnya masih sedikit basah dan lembut dengan ukuran yang lumayan besar. Pada saat dimakan akan terasa penuh, dalam arti rasa manis dan gurihnya santan kuat, tidak setengah-setengah. Sedangkan yang cokelat sama dengan original hanya ditambahkan meises coklat yang banyak di atasnya sehingga rasa manis coklatnya cukup terasa.

Biasanya kue serabi sebelum dimasukkan ke dalam kemasan kardus kecil, terlebih dahulu digulung dan dibungkus menggunakan daun pisang. Untuk serabi original dibandrol dengan harga 1.800 rupiah, dan untuk yang cokelat dibandrol 2.000 rupiah. Dalam satu kotak bisa diisi sesuai dengan permintaan pembeli, bisa satu jenis atau campur. Biasanya Ny. Lidia bersama pegawainya sudah mulai melayani pembeli sejak pukul 4 pagi sampai pukul 6 sore hari. Dan sampai saat ini, Kue Serabi Notosuman Ny. Lidia sudah memiliki beberapa cabang, ada yang di Kudus (Jl. Sunan Muria 16B), Boyolali (Jl. Pandanaran 233) dan Jogjakarta (Jl. Bhayangkara 63 B, Patuk).

Produk

Kue Serabi

Photo Gallery