Ronde Jago

Ronde jago

Sampai siang ini, Saya bersama tim wisatakuliner.com masih berada di Kota Salatiga. Selain untuk berburu kulinernya, kami sangat penasaran dengan Ronde Jago Salatiga yang ada di Jl. Jenderal Sudirman No. 9 (Pasar Raya 2). Pada malam sebelumnya, kami sudah datang ke lokasi tapi menurut salah seorang yang masih ada di daerah itu, wedang ronde yang kami maksud baru saja tutup beberapa menit yang lalu. Dan akhirnya kami memutuskan untuk kembali lagi besok pada siang hari supaya tidak kecewa lagi, karena ronde ini sudah buka dari jam  2 siang.

Hari itu, kami sudah ada di Jalan Jenderal Sudirman sejak jam 1 siang untuk menikmati sate suruh terlebih dahulu. Kemudian jam 2 lebih 15 menit salah satu tim pergi ke Ronde Jago yang tepat berada di belakang sate suruh. Ternyata setelah beberapa menit dia kembali dengan muka yang agak kecewa, wedang rondenya belum buka. Setelah dilihat-lihat, ternyata ada juga yang bernasib sama seperti kami, menunggu ronde jago membuka warungnya. Merasa sudah agak bosan, Saya pun pergi ke dalam pasar loak yang ada di dalam untuk melihat-lihat. Setelah beberapa menit, Saya kembali bergabung bersama tim. Dan akhirnya setelah beberapa menit berlalu, ternyata warung yang kami tunggu-tunggu dari tadi mulai melayani pengunjungnya.

Untuk aksesnya sendiri cukup mudah, dari Polsek Pasar Raya 2 masuk saja ke dalam gang kecil yang berada di antara Polsek dan Sate Sapi Suruh. Dari situ sudah ada petunjuk yang menunjukkan lokasinya, meskipun tidak ada papan petunjuknya kita juga tidak akan tersesat. Karena tempatnya hanya berjarak beberapa meter saja dari gang itu. Setelah masuk gang, belok kanan dan ronde jago tepat berada di sebelah kiri dengan neon box yang cukup jelas. Bangunannya terlihat sudah cukup tua, suasananya cukup tenang dan hening. Meski baru dibuka, tapi di dalam sudah terlihat beberapa orang yang sedang menikmati ronde dan sebagian sedang menunggu pesanan. Ada cukup banyak kalender yang dipajang sepanjang putaran dindingnya yang putih khas warung makan kuno. Ruangan yang tidak terlalu besar itu di-set dengan tatanan meja di setiap arah dengan penjualnya berada di tengah-tengah.

Sambil menunggu giliran, kita bisa menikmati beberapa camilan yang sudah tersedia di atas meja, ada gorengan, tape ketan hijau, bipang, atau beberapa jenis camilan di dalam toples-toples tua yang berjajar rapi di atas meja. Setelah mendapat giliran, masing-masing dari kami memesan wedang ronde sekoteng dan wedang campur (ronde+kacang). Dengan cekatan dan terampil, beberapa mug kecil ditangkupkan ke dalam genggaman. Kemudian diisi dengan bahan-bahan wedang, seperti agar-agar, kolang-kaling, pacar cina/ sagu mutiara, kacang, ronde, irisan kulit jeruk (kering), irisan manisan tangkeh kering(dari buah bligo). Kemudian dimasukkan ke dalam mangkuk kecil yang sudah disiapkan sebelumnya, dan terakhir dituangi dengan kuah dan taburan rumput laut kering. Wedang ronde campur pesanan Saya pun siap dinikmati, kacangnya lembut, rondenya empuk dan tidak kenyal seperti umumnya. Jahenya terasa banget, ada rasa kres kres dari irisan jeruk dan manisan tangkeh kering. Belum habis menikmati wedangnya, tapi tubuh sudah mulai terasa hangat karena bahan-bahan yang terkandung dalam wedang ronde.

Setelah melihat karyawannya tidak terlalu sibuk lagi, Saya pun mencuri waktunya untuk ngobrol sebentar. Sebenarnya Saya ingin bertemu langsung dengan Ibu Ivon atau Pak Joni sebagai pemiliknya, tapi sayang mereka tidak ada ditempat. Dari obrolan kami yang cukup singkat itu, ternyata usaha ini sudah dirintis sekitar tahun 1964. Karena kondisi bangsa Indonesia yang pada saat itu masih kurang stabil, untuk beberapa waktu usaha ini dihentikan. Kemudian baru dibuka kembali sekitar tahun 1968 hingga sekarang ini. Selain wedang ronde, ada juga batagor Bandung dan juga mie kopyok yang bisa kita nikmati dari jam 2 siang sampai jam 9 malam setiap hari.

Menu Utama

Wedang Ronde, Sekoteng, Campur (Rp. 8.000 – Rp. 9.000)

Photo Gallery