Nasi Gandul Romantis Pak Sardi

Nasi Gandul Romantis Pak Sardi

Setelah menikmati beberapa kuliner di Kota Tuban, Saya bersama tim wisatakuliner.com melanjutkan perjalanan kuliner ke Kudus. Namun sebelum itu, kami singgah ke Desa Gajah Mati, Pati untuk menikmati nasi gandul di Rumah Makan Nasi Gandul Romantis Pak H. S. Sardi. Berangkat dari Tuban masih cukup siang, tapi karena hujan dan macet, akhirnya sekitar jam setengah 9 malam baru sampai di Desa Gajah Mati, Pati.

Sebuah bangunan yang bagian depannya terpasang spanduk yang bertuliaskan Nasi Gandul Romantis milik H. S. Sardi terlihat cukup sepi. Setelah kami masuk, di dalam hanya terlihat seorang bapak-bapak yang sedang menyantap makanan, 2 orang perempuan berjilbab yang kelihatannya sedang beres-beres dan dibantu oleh seorang laki-laki. Setelah dibuka dengan pertanyaan dari salah satu tim kami, ternyata nasi gandulnya tinggal satu porsi, itupun hanya tinggal jerohan, kikil dan tanpa daging. Sudah jauh-jauh kesini dengan sedikit hujan rintik yang tak kunjung berhenti, seporsi nasi gandul pun kami terima meski tanpa ada daging sepotong pun.

Langsung saja salah satu perempuan itu mengambil piring dan melampirkan selembar daun pisang, kemudian ditambahkan nasi dan dituangi dengan kuah berwarna sedikit kecokelatan hingga nasinya setengah tenggelam. Kemudian ditambah dengan bahan lainnya dan potongan jerohan sapi dan kikil, dan tak lupa sebuah suru diselipkan di antara piring dan daun pisang. Bagi yang belum mengenal suru ini pasti akan binggung untuk apa dan bagaimana cara penggunaannya. Suru adalah sendok tradisional yang terbuat dari daun pisang yang ditekuk, digunakan oleh orang jaman dahulu atau oleh orang desa sebagai sendok. Cara makan yang unik inilah yang menambah kekhasan menikmati sepiring nasi gandul. Rasa dari nasi gandul racikan pak Sardi memang enak, santannya cukup ringan tapi tetap membuat kuahnya terasa gurih dan segar. Rasa manis juga lekat dengan sajian masakan yang satu ini, menunjukkan khas daerahnya yaitu Jawa Tengah yang cenderung manis di setiap masakannya.

Setelah membuka percakapan, ternyata bapak-bapak yang sedang menikmati makanan tadi ternyata Pak Sardi yang merupakan pemilik dari rumah makan ini. Beliau mulai merintis usahanya ini sejak tahun 1978 dengan berjualan secara keliling. Dan sekitar tahun 1981, Beliau mulai menetap di satu tempat hingga sekarang ini. Biasanya warung ini buka mulai dari jam setengah 5 sampai jam setengah 9 malam, itu pun sudah penghabisan. Waktu itu kami bisa dibilang beruntung, karena setelah kami datang, ada beberapa pembeli yang kecewa karena nasi gandulnya sudah habis. Meski jam bukanya terbilang hanya sebentar, tapi Pak Sardi membutuhkan sekitar 25 kg daging, kikil dan juga jerohan untuk melayani pembelinya setiap hari.

Menu Utama

Nasi Gandul (Rp. 9.000/ porsi)

Photo Gallery