Lontong Tuyuhan Pak Mujaeri

Lontong Tuyuhan Pak Jaeri

Puas menikmati nasi tahu dan sate serepeh Bu Slamet sebagai menu sarapan di hari ini, kami masih berada di daerah Rembang. Daerahnya yang masih kental dengan beberapa bangunan kuno, membuat kami betah untuk berlama-lama mengelilingi kota kecil yang tenang ini. Semua kegiatan berjalan dengan santai, tidak seperti yang terlihat di kota-kota besar yang dituntut harus serba cepat. Dalam perjalan, kami sempat bertemu dengan beberapa orang dan terlibat dalam percakapan kecil. Dari beberapa informasi yang kami terima, ternyata di daerah ini masih ada makanan yang khas selain nasi tahu dan sate serepeh, namanya Lontong Tuyuhan. Sudah menjadi kebiasaan, kalau ada informasi baru, kegiatan berselancar di dunia maya pun harus dilakukan. Karena sebelum menuju target perburuan kuliner berikutnya, ada cukup banyak pertimbangan dan pengecekan yang harus kami lakukan, mulai dari dunia maya hingga pengecekan ke lokasi sekitar agar hasilnya lebih memuaskan.
Lontong Tuyuhan merupakan salah satu makanan khas yang berasal dari Desa Tuyuhan dan hanya bisa kita temukan di desa tersebut. Secara administratif, Desa Tuyuhan masuk ke dalam kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, tapi kebanyakan orang lebih akrab dengan Kota Lasem sebagai tempat dimana Desa Tuyuhan berada. Malah ada beberapa warga Lasem yang mengatakan belum ke Lasem namanya kalau belum mencoba Lontong Tuyuhan. Dulunya para penjual lontong tuyuhan ini hanya menjajakan dagangannya dengan membuka lapak kecil di tepi jalan Desa Tuyuhan dan berada dibeberapa titik tertentu. Hingga sekitar tahun 2003, ada sebuah brand produk minuman yang bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat untuk mengumpulkan para pedagang tersebut dalam sebuah sentra makan yang bernama “Sentra Lontong Tuyuhan”.
Untuk menemukan Sentra Lontong Tuyuhan tidak terlalu sulit, kalau kita dari arah Surabaya menuju Kota Lasem, maka kita akan bertemu dengan pertigaan dengan traffic light yang menuju ke arah Pamotan. Lurus terus ±2 km ke arah tersebut, kemudian kita akan bertamu dengan perempatan pasar dan arahkan kendaraan ke kanan. Setelah berjalan ±2 km, kita bisa menemukan Sentra Lontong Tuyuhan berada di kanan jalan. Sesuai dengan namanya, di tempat ini semuanya menjual menu yang sama, yaitu lontong tuyuhan dan sebuah kios khusus yang menjual minuman. Karena sesuai kesepakatan didirikannya sentra makan ini, para pedagang lontong tuyuhan tidak ada yang menyediakan minuman bagi pembelinya.
Secara sepintas lontong tuyuhan mirip seperti opor ayam, hal tersebut juga diakui oleh beberapa penikmat lontong tuyuhan. Ayamnya dimasak kuah santan dengan warna sedikit agak kekuningan, namun rasanya berbeda dengan opor. Bumbu rempahnya terasa lebih ringan dengan pedas sedang dan santannya yang tidak terlalu kental. Dalam penyajiannya hanya berisi potongan lontong dan daging ayam dengan ukuran yang cukup besar dan disiram dengan kuahnya yang gurih dan sedap. Kita juga bisa memesan tanpa kuah, sedangkan untuk pilihan dagingnya terserah pembeli, ada sayap, paha, dada mènthok, ceker atau kepala.
Siang itu kami singgah ke salah satu pedagang lontong tuyuhan milik Pak Mujaeri atau lebih dikenal dengan sebutan Pak Jaeri. Sama seperti stand yang lainnya, stand milik Pak Jaeri ini hanya muat untuk ±8 pengunujung saja. Biasanya kalau tempatnya penuh, para pembeli yang ingin makan di tempat menempati stand di sebelahnya yang masih kosong, karena biasanya para pedagang tersebut mulai membuka standnya selisih 1 atau 2 jam antar pedagang. Sama seperti siang itu ketika kami datang, stand Pak Jaeri sudah penuh bahkan ada pengunjung yang menikmati di stand sebelahnya. Tapi beruntung, kami tidak perlu menunggu terlalu lama, karena ada beberapa pembeli yang sudah beranjak pergi meninggalkan tempat.
Setelah mendapat tempat duduk, baru kemudian Saya bisa menikmati lontong tuyuhan yang dari tadi sudah membuat Saya penasaran. Seperti yang sudah Saya katakan sebelumnya, seporsi lontong tuyuhan hanya terdiri dari potongan lontong, daging ayam yang disiram dengan kuahnya. Tapi dipanci yang berisi potongan daging ayam itu juga ada tempenya yang dimasak serupa, kalau memang suka kita juga bisa memesannya untuk ditambahkan tempe. Dagingnya empuk dan tidak alot meskipun menggunakan ayam kampung, bumbu rempahnya yang ringan dengan kuah santan yang tidak terlalu kental, membuat kita tidak merasa bosan atau ènèg meskipun porsinya cukup besar.
Untuk seporsi lontong tuyuhan dibandrol dengan harga 7.500 rupiah saja, sedangkan untuk take-away tergantung para pembeli ingin membeli berapa banyak. Dalam sehari stand Pak Mujaeri yang kini dikelola oleh putranya, biasanya membutuhkan sekitar 10 ekor untuk memenuhi permintaan para pembelinya, baik untuk makan ditempat maupun take-away. Sedangkan pada saat liburan atau lebaran, permintaan akan semakin mengkat hingga 3x lipat dari hari-hari biasa. Kalau untuk jam bukanya sendiri dari jam 11 siang sampai jam 6 sore, tapi terkadang sebelum jam 2 siang dagangannya juga sudah habis. Tapi tidak perlu khawatir takut kehabisan, karena semua pedagangnya menjual menu yang sama meski rasanya sedikit berbeda antara pedagang yang satu dengan yang lainnya.

Menu Utama

Lontong Tuyuhan (Rp. 7.500/ porsi)

Photo Gallery