Ayam Goreng Tenes

Ayam Goreng Tenes

Pucuk dicinta ulam pun tiba, rasanya pepatah ini sangat cocok untuk menggambarkan keadaan perut Saya sore itu. Pas perut nyanyiin lagu keroncong-an, pas melewati jalan Tenes kota Malang, dan pas pula melihat papan Ayam Goreng Tenes bertengger di depan mata. Tanpa banyak pikir, langsung saja Saya memarkir kendaraan tepat di depan Ayam Goreng Tenes. Dikenal dengan Ayam Goreng Tenes karena memang rumah makan ini sejak tahun 1991 berada tepat di jalan Tenes, jadi supaya orang lebih mudah mengingat dan mencarinya.

Untung saja ketika Saya tiba rumah makan ini masih sepi karena memang pas baru buka, karena sebentar saja rumah makan ini akan penuh dengan lautan manusia. Apalagi sekarang masih hari pertama di tahun 2012, masih rame-ramenya wisatawan yang mengunjungi kota Malang. Dan benar saja tak berselang lama Saya duduk beberapa rombongan keluarga segera memenuhi meja kursi di rumah makan ini.

Sudah menjadi rahasia umum dalam memesan makanan bahwa siapa cepat dia dapat, jadi jangan tunggu lama lagi daripada nanti keduluan orang, hehe.. Segera saja Saya memesan menu andalan rumah makan ini, sudah tentu menu ayam goreng yang menjadi jagoan disini tak lupa memesan sambal yang cucok untuk menandingi kelezatan ayam gorengnya, sambal pencit… Hmm.. pasti yummy abis nih.. Saya harus sedikit bersabar hingga pesanan saya tiba, karena rumah makan ini memang baru saja buka dan para karyawan masih menyiapkan beberapa peralatannya.

Sepotong ayam goreng dada plus sambal pencit dan sepiring nasi yang masih mengepul tersaji di meja saya. Wuih, bikin tambah enga sabar untuk segera mencicipi. Ayam goreng disini diungkep dengan bumbu hingga merasuk sempurna ke dalam dagingnya sehingga setelah digoreng rasanya tetap gurih dan nikmat. Ayam yang digunakan adalah ayam kampung, namun saat dimakan tidak terasa alot dan keras. Pokoknya rasa ayam disini sangat cocok denga selera Saya, padahal Saya termasuk tipe yang rewel dengan rasa ayam goreng, jika bumbu tidak meresap hingga ke daging ayam atau orang Jawa bilang “sepo” maka saya akan mengkategorikannya ke urutan nomor sekian alias not recommended buat dicoba.

Sedangkan sambalnya baru dibuat saat dipesan sehingga masih segar dan tidak terlalu berair. Karena yang Saya pesan adalah sambal pencit maka nampak jelas potongan pencit (mangga muda) yang menggunung diatas sambal. Busheet dah baru kali ini lihat sambal pencit yang pencitnya begini merdeka nongkrong diatas sambal, lebih tepat dikatakan pencit yang dikasi sambal dibanding sambal yang dikasi pencit. Campur dulu pencit dengan sambalnya hingga rata, baru siap disantap bersama dengan ayam goreng. Saat ayam dimakan bersama dengan sambal pencit, rasanya sungguh enak dan pas, malah kadang rasa gurih dari ayam berebut tampil dengan rasa pedas asam dari sambal pencit. Cuma bisa bilang “mamamia” setelah selesai menikmati porsi makan Saya kali ini.

Menu Utama

Ayam Goreng ( Rp. 9.000/ potong – Rp. 41.000/ ekor)

Photo Gallery