Kain Tenun dari Bali

Beranjak dari Taman Ujung Soekasada Karangasem, perjalanan tim wisatakuliner.com pun dilanjutkan kembali menuju Pantai Amed yang menjadi rute perjalanan kami selanjutnya. Keadaan jalan yang berkelok dan tidak terlalu lebar, membuat laju kendaraan tidak bisa terlalu cepat. Di sisi lain, pemandangan alam disepanjang perjalanan cukup menyenangkan, sehingga Saya tak kuasa mengalihkan pandangan ke arah lain. Sampai ketika di Br. Kangin, Desa Seraya Timur, Karangasem, kendaraan pun dihentikan. Perhatian Saya pun masih tertuju kepada sebuah pohon siwalan yang dibelit oleh pohon jenis lain yang tingginya hampir sama dengan pohon siwalan.

Setelah mengamati pohon aneh tersebut beberapa saat, Saya pun bergabung dengan tim menuju sebuah home industry kain tenun tradisional. Karena tujuan kami berhenti untuk singgah ke Seraya Traditional Textile Artisan yang ada di sebelah kiri jalan. Di tempat ini, kain tenun masih dikerjakan secara tradisional tanpa peralatan modern sedikit pun. Selain cara pembuatannya yang masih tradisional, semua bahan-bahannya juga berasal dari bahan alami, tanpa menggunakan campuran bahan kimia. Mulai dari benang hingga semua jenis pewarna yang digunakan berasal dari alam. Misalnya saja untuk mendapatkan warna merah, mereka menggunakan akar pohon mengkudu. Untuk warna biru didapatkan dari tumbuhan indigo, kunyit untuk warna kuning, dan masih banyak lagi jenis dan bagian dari tumbuhan yang digunakan sebagai bahan pencelup untuk mendapatkan warna yang sesuai.

Proses penenunan kain dilakukan di bagian depan oleh beberapa pegawai yang berasal dari penduduk sekitar, mulai dari yang sudah dewasa hingga yang masih anak kecil. Menurut informasi yang kami terima, para anak kecil yang ikut bekerja sebagai penenun tradisional ini tidak ada paksaan sedikit pun dari pihak pengelola tekstile. Mereka tergabung dalam kelompok Karya Sari Warna Alam, pencelup benang dan penenun kain Bebali (natural dyers’ & weavers’ coorperative of seraya traditional textile artisan). Kebanyakan kain tenun ini dijadikan sebagai pasmina,¸baik ukuran yang kecil maupun yang lebar. Untuk membuat selembar kain tenun, biasanya membutuhkan waktu ±3minggu hingga 2 bulan, tergantung dari corak dan ukuran. Sedangkan proses penenunan dilakukan di bagian depan, sehingga para pengunjung bisa menyaksikan prosesnya secara langsung.

Untuk proses pemasarannya, saat ini pihak Seraya Textile Traditional Artisan bekerja sama dengan Garuda Indonesia, CTI dan beberapa desainer yang ada di Jakarta. Kalau untuk masalah harga, mungkin terbilang cukup mahal, berkisar antara 300 sampai 600 ribu rupiah. Namun mengingat proses dan bahan-bahan yang digunakan serta kualitasnya, harga tersebut cukup sebanding. Proses pembelian bisa pesan terlebih dahulu atau pun secara langsung, karena mereka juga menyediakan mini shop hasil kain tenun yang bisa dipilih sesuai dengan selera para pengunjung.

(Lila, September 2011)
Sumber foto : koleksi www.wisatakuliner.com

Alamat                   : Br. Kangin, Desa Seraya Timur, Karangasem, Bali Timur
Telp                        : 0828.3688.122, 0852.3775.9269
Jam buka              :  07.00 – 18.00
Oleh-oleh khas    : Kain Tenun Tradisional khas Bali (Rp. 300.000 – Rp. 600.000)

Produk

menu utama

Photo Galleries